Aktifitas-Alumni Kabar

Halal bil halal dan Silaturrahmi Keluarga Alumni Buntet Pesantren Cirebon

Halal bi halal dan Silaturrahmi Keluarga Alumni Buntet Pesantren Cirebon
Jakarta Timur – Ikatan Santri DKI Jakarta (IKSADA) dan Ikatan Keluarga Alumni Buntet (IKLAB) Jabodetabek, adalah dua organisasi yang berperan penting dalam setiap acara silaturrahmi di daerah sekitar Ibukota. 
Masih dalam suasana lebaran, Rabu 22 Juli 2015, IKSADA menggelar acara halal bil halal di aula masjid Hikmahul Ummah, Klender, Jakarta Timur. Acara yang bertema Menjalin Persaudaraan Sesama Santri Buntet Pesantren itu dihadiri oleh para alumni dari seluruh angkatan. IKSADA juga mengundang Kiai Ade dan Ust. Fikri Mubarok, pengasuh asrama Al Andalucia dan Al Muttaba Buntet Pesantren. 
Pada kesempatan itu, Kiai Ade memberikan mauidzhoh hasanah di depan para alumni dan santri Buntet Pesantren Cirebon. Kiai Ade mengatakan bahwa Buntet Pesantren adalah salah satu Pesantren tertua di Indonesia dan satu-satunya Pondok Pesantren yang sebelum didirikan oleh pendirinya, Mbah Muqoyyim, terlebih dahulu ditirakati dengan berpuasa dua belas tahun. Tiga tahun puasa dikhususkan untuk dirinya, tiga tahun untuk keluarga dan keturunannya, tiga tahun untuk tanah Buntet, dan tiga tahun untuk seluruh santri yang ada di Buntet Pesantren. 
Kiai Ade bercerita, bahwa pada tahun 1980-1990an, Buntet Pesantren didominasi oleh para kiai daripada santrinya. “Jaman dulu itu kiai lebih banyak dari santri. Jadi santri masih dibebaskan untuk belajar dan mengaji kepada kiai yang mana saja. Dulu, masing-masing asrama tidak menitikberatkan santrinya agar hanya fokus belajar di asramanya saja. Bahkan saya menganjurkan santri-santri yang ada di rumah saya agar mencari pengalaman (baca: ngaji pasaran) di Jawa Timur, agar mendapatkan pengalaman dan gambaran bagaimana kehidupan santri di sana. Mulai dari bangun tidur, ngaji, sampai etika terhadap para Kiai.” 
Saat ini, di setiap asrama mempunyai aturan main sendiri. Namun bukan berarti melarang para santrinya untuk belajar dan mengaji kepada Kiai yang mana saja, selama tidak mengganggu kegiatan di asramanya sendiri. Setiap asrama sudah mengklasifikasi santrinya (Dirasah). Ada yang kelas Jurumiyah, ada juga kelas alfiyah, dan lain sebagainya. Kiai Ade menganjurkan kepada alumni yang putra-putrinya masih mondok di Buntet, agar tidak segan-segan menguji keilmuan yang didapat oleh putra-putrinya sepulang dari sana. Hal serupa juga dialami Kiai Ade ketika ia pulang dari Kairo. 
Walaupun berbeda-berbeda dan memiliki banyak asrama, Buntet Pesantren tidak menjadi terkotak-kotakkan dan akhirnya terjadi perpecahan. Menurut Kiai Ade, di dalam al-Quran terdapat ayat yang menyatakan bahwa orang-orang Mukmin, Yahudi, Nashrani, dan Shabiin, adalah makhluk Allah juga, yang sama-sama mendapatkan kebaikan dari Allah. Begitu pula dengan santri, dari mulai santri di asrama sebelah Barat sampai di sebelah Timur semuanya adalah santri Buntet, yang sudah didoakan oleh seluruh Kiai yang ada di sana. 
“Berbeda dengan jaman dulu, saat ini santri lebih banyak daripada kiainya. Kiai Sepuh yang saat ini masih ada, sudah bisa dihitung dengan jari. Diantaranya, Kiai Majduddin BK, Kiai Hasanuddin BK, Kiai Abdul Hamid Anas yang saat ini sedang dalam keadaan sakit, dan Kiai Hasanuddin Kriyani.” –ungkap Kiai Ade Ade. 
Di akhir, Kiai Ade membuat hadirin termenung dan merenung. Kiai Ade menyatakan kalau tugas para alumni Buntet Pesantren Cirebon sebenarnya lebih berat daripada tugas para Kiai di sana. “Kalo Kiai mah di sana enak. Shubuhan pake doa Qunut tidak ada yang menentang. Tahlilan ya semuanya ikut. Puji-pujian setelah adzan tidak ada yang membid’ahkan. Karena di Buntet itu ya seragam, semuanya sama. Nah, tugas para alumni adalah sebagai benteng dari Ahlussunnah wal Jama’ah, supaya ajaran dan amalan-amalan ASWAJA senantiasa dapat dipertahankan. Jangan sampai para alumni Buntet Pesantren Cirebon “dikalahkan” oleh mereka yang senang mengkafirkan dan membid’ahkan ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.” 
Ada banyak media yang bisa digunakan para alumni Buntet dalam mensyiarkan ajaran dan amalan Aswaja. Bisa dengan media ceramah, guru ngaji, menulis buku, berpuisi, melukis, dan lain sebagainya. “Jangan sampai eksistensi alumni Buntet Pesantren Cirebon dan seluruh santri di Nusantara, yang memegang teguh ajaran dan amalan Aswaja, berhasil diredupkan oleh mereka yang berjenggot tipis dan bercelana cingkrang. Saya mewakili Kiai se-Buntet akan merasa bangga kalau ada Santri Buntet yang membangun lingkungan sekitarnya dengan wewangian dan aroma Ahlussunnah wal Jama’ah. Pun sebaliknya, saya dan Kiai se-Buntet akan merasa kecewa dan sedih kalau ada Santri Buntet yang terbawa oleh aliran-aliran Islam di luar Aswaja.” –pesan Kiai Ade kepada hadirin. 
Acara halal bil halal diakhiri dengan doa bersama, dan bersalam-salaman demi terciptanya persaudaraan sesama Santri Buntet yang lebih erat lagi. Setelah makan bersama, Kiai Ade memberikan kertas putih yang di dalamnya terdapat tulisan huruf arab pegon, yakni amalan-amalan keseharian yang semoga bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. 
—————————————-
Aru Lego Triono – Alumni Buntet Pesantren – Jakarta