Aktifitas-Alumni

Penulis yang Santri, Santri yang Penulis

Aru Elgete (tengah) bersama dua rekannya di Bandung (13/1/2018)

Oleh:
Aru Elgete*

Beberapa waktu lalu, akun Instagram @buntetpesantren mengunggah ulang postingan Muhammad Abror. Alumni Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Buntet Pesantren Cirebon (MANU-BPC) itu, sejak awal Januari sedang berada di Perancis. Ia yang kini berstatus sebagai Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon itu, sedang menjalankan program pertukaran pelajar di Negeri Eiffel.

Namun, yang menarik adalah soal keterangan atau caption foto yang diunggahnya. Kalimat itu berbunyi, “Jadi santri itu gak mesti jadi kiai. Jadilah apa saja yang bermanfaat”. Sebanyak lebih dari 700 orang menyukai foto itu. Kemudian, yang akan menjadi menarik bukan serta-merta ingin juga ke Perancis seperti kandidat dokter muda itu. Tetapi para santri, dan termasuk saya, menjadi terpancing untuk terus melakukan sesuatu agar memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Lain lubuk, lain ikannya. Begitu, bunyi peribahasa yang sering kita dengar. Maka; beda orang, beda juga kemampuannya. Saya, misalnya, punya hobi menulis sejak nyantri di Buntet. Mulai puisi, cerpen, hingga esai. Ketika itu, saya lebih banyak menulis puisi; karena mungkin tengah memasuki usia remaja yang dipenuhi dengan romansa cinta. Walau terkadang, saya juga menulis cerpen dan esai.

Menulis, bagi saya, bukan hanya sekadar menumpahkan gagasan atau kegelisahan dengan rangkaian kata-kata. Melainkan, serupa peluru yang mampu menembus jutaan otak manusia dalam sekali tembak. Bahkan tak jarang, sasaran tembak jadi meluas. Maksud hati menyasar pada satu target, tetapi ada pula yang merasa diri sebagai korban.

Dengan tulisan juga, kita dapat melukiskan sejarah. Memperpanjang usia di keabadian. Juga, memperlebar lingkar otak agar senantiasa berpikir secara rapi dan terstruktur. Karena menurut beberapa penulis yang saya temui mengatakan bahwa dengan menulis, kita dapat berpikir; bekerja; dan bergerak; secara sistemik dan terkendali. Menulis adalah soal keterampilan.

Namun, hal yang paling mendasar untuk bisa menulis ialah dengan banyak membaca. Buku apa pun. Selain itu, memperhatikan keadaan yang ada di sekitar. Sebab menulis merupakan pemindahan sebuah peristiwa yang kita baca, rasa, dan lihat ke dalam bentuk kata-kata. Menulis bukan perkara sulit. Menjadi rumit ketika malas membaca dan abai, terlebih tidak punya daya kepekaan terhadap beragam peristiwa.

Kemudian yang lebih membahagiakan dari menulis, selain akan hidup abadi dan dikenal banyak orang, juga sebagai bentuk penyampaian gagasan; menulis akan mendatangkan rezeki. Hanya dengan menulis, duduk manis sembari mata menatap layar monitor, kita akan mendapat keuntungan yang sangat besar.

Hal itu, manakala kita sudah bisa menulis dengan baik. Mencetak buku, misalnya, atau mengirim tulisan ke beberapa media nasional yang memang menyediakan kolom tulisan bagi masyarakat luas, dan menyiapkan honorarium untuk penulisnya.

Tak hanya itu, menulis dapat memperluas lingkar silaturahim, memperbanyak teman dan sahabat. Saya, misalnya. Di NU Online, tulisan saya beberapa kali diterbitkan. Sebagai penulis, saya tentu sangat bahagia. Karena tulisan sendiri, bisa dibaca dan dinikmati banyak orang. Pertama, gagasan saya tersalurkan. Kedua, kepuasan batin. Ketiga, dikenal banyak orang sehingga di kemudian hari akan tercipta jalinan silaturahim.

Hal itu terbukti nyata. Di akhir pekan kemarin, NU Online mengadakan sebuah pertemuan bagi Penulis Keislaman di Jawa Barat. Sekitar 60 peserta hadir. Saya, salah satunya. Bahagia, tentu. Kenal dengan banyak orang, mendapat ilmu baru tentang kepenulisan, dan juga bisa memperpanjang umur karena tali silaturrahim kian ter-rajut.

Meski mewakili Kota Bekasi, saya berbangga hati ketika dalam satu forum hadir pula rekan-rekan yang juga pernah menggali ilmu dari sarung dan peci para kiai, di almamater yang sama; Buntet Pesantren Cirebon. Mereka semua adalah penulis. Minimal, menyukai dunia tulis-menulis. Mulai dari Pengurus Cabang Istimewa NU Jerman, Muhammad Abdullah Syukri, hingga mantan Pengurus Komisariat Ikatan Pelajar NU MANU Putra BPC, Syakir Ni’amillah Fiza.

Dari pertemuan itu, saya dapat mengenal lebih dekat sosok Mas Dede (panggilan akrab Muhammad Abdullah Syukri). Sebab, selama saya nyantri di Buntet, ia sedang menempuh pendidikan di luar kota sehingga komunikasi tatap muka dan wajah belum pernah terjadi.

Tulisan-tulisannya di Web Buntet Pesantren mampu menyuntik gelora semangat bagi santri Buntet yang berkeinginan melanjutkan studi di luar negeri. Terlebih, saat ia bercerita langsung tentang bagaimana kehidupan Islam di Eropa; dari Jerman hingga Spanyol.

Kembali, ke persoalan menulis. Saya sepakat dengan ucapan Abror pada keterangan foto yang diunggahnya di akun Instgram. Meski tidak mungkin menjadi kiai karena keterbatasan ilmu yang dimiliki, setidaknya saya mampu melakukan sesuatu untuk bisa memberikan manfaat untuk orang lain; minimal bagi diri sendiri. Maka itu, saya memutuskan untuk tetap menjadi seorang santri. Tetapi dengan embel-embel; Santri yang Penulis, dan Penulis yang Santri.

Wallahu A’lam

*Santri Buntet Pesantren Cirebon.