Haul

Inilah Pidato Sambutan Hatta Rajasa pada Haul Buntet Pesantren 2014

Haul Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2014 dihadiri oleh tamu undangan dari tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh pemerintahan. Salah seorang tamu yang hadir dalam kesempatan tersebut adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa yang memberikan sambutan atas nama tamu kehormatan.


Berikut ini isi pidato sambutan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa yang sudah dibuatkan transkripnya oleh administrator Web Buntet Pesantren. Untuk melihat rekaman video pidato Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa di YouTube, silakan klik DI SINI.

pembukaan (hamdalah, solawat dst)

Yang saya cintai dan semoga dimuliakan oleh Allah swt bapak KH. Adib Rofiudin dan KH. Nahduddin Royandi Abbas, KH. Hasanudin Kriyani dan para kyai, alim ulama, para habaib, ibu-ibu dan bapak-bapak yang saya cinta, bapak bupati yg saya hormati, dan para tokoh-tokoh pemuda dan para warga masyarakat Cirebon dan saya yakin tidak hanya warga Cirebon yg hadir pada malam hari ini, sungguh saya yakin ini warga bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke hadir di sini malam ini, Insya Allah karena kecintaanya pada Pondok Buntet yg sama-sama kita cintai ini.

Saya sedikit saja menyampaikan di sini Pak Yai, karena harus kembali ke Jakarta. Mohon maaf betul.

Yang pertama, saya mengajak kita sama-sama bersyukur kepada Allah swt pada malam hari yang berbahagia ini kita sama-sama bersilaturahim dalam acara haul armarhumin sesepuh dan warga Pondok Buntet Pesantren yang amat terkenal dan memiliki wibawa yang tinggi di tanah air kita ini. Banyak alumninya tersebar di seluruh Indonesia, bahkan di kawasan asia.

Alumni-alumni yg telah memberikan sumbangan pemikiran dan tenaganya bagi kemajuan masyarakat, bagi kemajuan umat, bagi kemajuan bangsa dan negara tercinta.

Yang kedua, pada kesempatan yg baik ini izinkan pula saya ingin menyampaikan selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dukungan saya yang penuh kepada pondok-pondok di tanah air ini. Saya ingin menyampaikan itu, yang disampaikan ketua panitia dan saya mendengar dengan teliti, apa saja yang menjadi visi dan misi pondok ini.

Kalau kita ramu menjadi satu kalimat singkat maka pondok ini bisa kita katakan sebagai pusat keunggulan umat dan bangsa, atau dalam bahasa yang agak keren sedikit “the center of excellence”. Inilah pondok jendela peradaban yang membangun peradaban bangsa yang mulia. Di dalam menghadapi dunia yang cepat berubah dan fenomena globalisasi saat ini, maka kata kunci untuk membangun bangsa ini terletak pada kemampuan kita, untuk membangun sumber daya manusia yang pandai berpikir tapi juga pandai berdzikir. Oleh sebab itulah, maka pondok semakin diperlukan untuk menjawab tantangan peradaban.

Dalam satu pertemuan saya di luar negeri ada seorang sahabat saya dari sebuah negara besar mengatakan kepada saya, “Pak Hatta, dalam dunia modern saat ini dan sudah mengglobal saat ini, apakah ponpes itu masih relevan dengan perkembangan zaman saat ini?”

Ia tidak paham dan tidak tahu, saya jelaskan dan saya jawab — tentu dalam bahasa Inggris waktu itu. Saya katakan, sampai kapanpun pada zaman apapun dalam peradaban apapun, pesantren tetap relevan dan tetap diperlukan bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa dunia. Mengapa?

The reason is one, alasanya adalah mendidik manusia tidak hanya mencerdaskan dalam intelektualitasnya saja, karena banyak orang cerdas di dunia ini pada akhirnya yg membawa kerusakan bagi alam dan bagi kehidupan.
 

Saya katakan pesantren setidaknya memiliki 3 sistem yg handal, kalau kita pahami apa yg disampaikan oleh ketua panitia tadi.

Pertama adalah sistem sosial. Kalau bukan sistem sosial, mana mungkin kita berkumpul pada malam hari ini melakukan haul, melakukan silaturahmi, ada di dalam pondok dan nyantri di sini dan lain sebagainya. Ia adalah sistem sosial yang merekatkan satu sama lain, yang membawa saling pengertian satu sama lain yang membuat kita tidak berbeda antara yang kaya dan miskin dan saling memberikan pertolongan dalam aktivitas sosial satu sama lain. Dan ini makhluk sosial tanpa dibonding dalam satu sistem sebagaimana pesantren ini maka tidak mungkin ia menjadi makhluk sosial yang baru.

Sistem yang kedua, pesantren adalah sistem intelektual. Ia mencerdaskan sumber daya manusia, ia memberikan pendidikan yg mampu menjawab tantangan bangsanya, tetapi sekaligus menjawab tantangan keumatan tapi juga sekaligus memajukan peradaban ilmunya.

Yang ketiga, ini hampir tidak ada yang ditemukan di tempat lain ia adalah sistem spiritual. Pondok pesantren memberikan setidaknya 3 sistem yg akan melahirkan manusia-manusia yg kita sebut manusia unggul, ulul albab sebagaimana sedikit, kalau kita resapi dalam surat Ali ‘Imran itu,

إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيت لأولي الألباب الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار
آل عمران : 190 – 191

inna fi kholqissamawati wal ardi wakhtilafillaili wannahaari laayatilli ulil albaab. Allatheena yathkuroona Allaha qiyaman waquAAoodan waAAala junoobihim wayatafakkaroona fee khalqi assamawati wal-ardi rabbana ma khalaqta hatha batilan subhanaka faqina AAathaba annar. (3:190-191)

Manusia seperti inilah yang kita harapkan, orang yang berpikir memeriksa fenomena alam tapi juga tersungkur dan berdzikir dan mengatakan ya Alah tidak ada sia-sia engkau ciptakan di dunia ini.

Pondok pesantrenlah menurut saya jendela peradaban yang melahirkan manusia-manusia unggul. Oleh karena itu, saya berkomitmen dan sejak tahun 80-an sebelum saya mejadi aktivis politik, katakanlah menjadi menteri sudah 14 tahun, saya rajin membangun pondok. Murid mbah Maimun (Zubeir) di Sumatera membangun pondok sama-sama saya membangun pondok, saya kecilnya juga mondok.

Jadi yakinlah pondok pesantren harus modern tapi tidak boleh tercerabut dari kultur kita sebagai rahmatan lil alamin yang mampu menjawab tantangan zaman. Ia modern tapi moderat, tapi juga intelktualitasnya dapat menjawab tantangan peradaban.

Saya tidak ingin mengguruui tidak ingin menggarami lautan samudra luas pak kyai yang ada di sini. Sekedar sharing, sekder menyhampaikan betapa saya memiliki komitmen yg tinggi terhadap ini.

Cerita soal haul, almarhumah ibu saya wafat 3 tahun lalu. Ibu saya Syarifah Siti Aisah biti H. Muhammad Yusuf al Idrus, berpesan kepada saya, memang, untuk selalu mentahlilkan dan melaukan haul itu adalah wasiat dari ibunda termasuk saya. (tepuk tangan meriah dari hadirin).

Dan saya cerita sama Pak Kyai, barangkali kalau saya bisa beridiri di sini sebagai menteri 14 thaun bukan karena saya orang yang pinter tapi saya menceritakan apa adanya. Barangkali ibu-ibu kaget kalau saya ceritakan, emak saya itu membaca 40 yasin setiap hari untuk mendoakan saya, ketika saya masih sekolah.

Jadi bagaimana tidak, itulah arti seorang ibu. Jadi, kalau saya hari ini begini hanya 30% saja kemampuan saya, yang 70% adalah doa guru-guru saya, doa para kyai, doa ibu bapak doa sanak famili dan para sahabat serta hasil kerja kolektif kita semua.

Sama halnya dengan pembangunan yang kita capai saat ini, yang patut kita syukuri. Betapa banyak kemajuan kadang-kadang di tahun politik seperti ini, banyak yang mengatakan Indonesia tidak ada kemajuan, jalan di tempat bahkan jalan mundur. Nah, ini bahaya kalau tidak kita syukuri, bahahya kalau tidak mensyukuri itu. “lain syakartum, laaziidannakum walain kafartum inna ‘adzaabii lasyadiin,” bahaya betul.

Jadi kita syukuri banyak kemajuan-kemajuan ini karena para pemimpin kita sembelumnya, para kyai-kyai kita yang memberikan banyak wasiat dan keteladanan kepada kita sejak jaman Bung Karno, zaman pak Hartao, zaman Pak Habibi, dan zaman Gus Dur yang banyak memberikan pencerahan dan zaman Megawati dan sekarang zaman SBY yang kebetulan besan saya.

Dan nanti Insya Allah akan diteruskan oleh presiden berikutnya dan pemimpin-pemimpin berikutnya mereka sungguh orang-orang yg meliliki komitmen untuk membangun bangsanya. Percayalah tidak ada para pemimpin yang tidak ingin membawa bangsanya dan umatnya tidak maju.

Jadi marilah kita syukuri, dan saya terakhir mohon doa dari para kyai, dari pondok Buntet ini semoga apa yang saya amanahi ini lurus saja tidak bengkok-bengkok kalau yang lain itu kita serahkan pada Allah swt.

Ini saja yang saya sampaikan mohon maaf dan selanjutnya saya akan langsung mohon diri pak kyai, langsung naik kereta api ke Jakarta, Insya Allah ketemu lagi dan saya tidak akan lupa kepada pondok Buntet yang banyak memberikan sumbangan kepada bangsa dan negara yang tercinta ini.

wallahul muwaffiq ilaaqwamittariq
assalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh

Terima kasih semoga acara ini penuh kesuksesan dan penuh keberkahan bagi kita semua dan membawa kebaikan bagi bangsa dan negara tercinta ini. Terimakasih.