Tulisan Santri

WARGA CIREBON KEHILANGAN KEBANGGAAN ATAS BAHASANYA SENDIRI

Meski berakar pada bahasa Jawa, bahasa Jawa Cirebon cukup berbeda dengan bahasa Jawa yang berlaku di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keberbedaan itu dapat dilihat dari imbuhan yang digunakan dan sebagainya.
Selain berbahasa Jawa Cirebon, Cirebon juga berbahasa Sunda karena terletak di wilayah Jawa Barat yang umumnya merupakan wilayah kekuasaan Pajajaran. Oleh karena hubungannya yang begitu erat, bahasa Sunda di Cirebon mempengaruhi bahasa Jawanya.
Tetapi bukan hal itu yang akan saya bahas di sini. Hilangnya kebanggan akan bahasanya sendiri mulai tampak di Cirebon. Panggilan emak, mama, ataupun mimi terhadap sosok ibu mulai hilang tergerus oleh bunda, ibu, umi, dan mami. Selain itu, panggilan mama, bapak, dan abah pun tergerus oleh abi dan ayah.
Panggilan terhadap orangtua dengan bahasa Indonesia ini rupanya terpengaruh dengan televisi yang bukan lagi menjadi barang sekunder, tapi primer karena televisi saat ini telah menjadi pusat informasi paling murah dan mudah.
Selain itu, untuk menghormati putra kiai, biasanya cukup dengan panggilan kang jika lebih atau telah dianggap dewasa dan berilmu dan cung jika masih kecil, sedangkan kepada putrinya dengan yayu atau bila lebih muda dengan nok atau bayi. Tetapi hal ini seolah semakin terkikis dengan panggilan ala jawatimuran, yakni gus untuk putra kiai dan ning untuk putrinya.
Barangkali dunia telah terbalik sekarang. Dulu dan masih sampai kini, bahasa Cirebon sangatlah berpengaruh di Jawa, terutama di pesantren. Terbukti dengan pemaknaan kitab-kitab di pesantren menggunakan ingsun untuk saya dan sira untuk kamu. Ingsun dan sira tidaklah digunakan dalam percakapan sehari-hari di daerah selain Cirebon tetapi di manapun pemaknaan kitab dengan menggunakan bahasa Jawa, dapat dipastikan menggunakan dua kata tersebut. Jawa Tengah dan Jawa Timur biasanya menggunakan aku dan enyong untuk saya dan awakmu, kowe, dan kowen untuk kamu.
Hal ini seolah menyatakan bahwa para kiai dahulu menimba ilmu di bumi Syarif Hidayatullah dan saat ini berbalik, banyak orang Cirebon yang justru menimba ilmu ke timur dan sedikit atau bahkan hampir sudah tidak ada orang timur yang menimba ilmu agama di Cirebon. Sehingga mengakibatkan orang Cirebon kini terpengaruh dengan bahasa Jawa bagian tengah dan timur.

Oleh Muhammad Syakir Niamillah
Mahasiswa Tarbiyah Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah