Opini

Tuhan, Fisika Kuantum, dan Akidah Asy’ariyah

Oleh: Arief Rizqillah

Beberapa hari ini jagat linimasa cukup diramaikan dengan pendapat Alfan yang dituliskan dalam dua status. Mohon maaf, kalau menurut saya, mas Alfan ini cukup berani, kalau tidak disebut nekad karena membahas dua ilmu yang cukup berat yaitu ilmu agama dan ilmu fisika tanpa pengetahuan yang memadai. Lebih nekad lagi yang dibahas adalah ilmu tauhid dan fisika kuantum, dua cabang ilmu yang dikenal “njlimet” dan harus berhati-hati agar tidak salah dalam memahaminya.

Saya tidak tahu latar belakang pendidikan agama dia. Mas Alfan juga tidak menyebutkan secara eksplisit di mana dia mendalami ilmu agama dan sudah sejauh mana pengetahuan agamanya. Hal ini dirasa tidak fair, ketika dia mengaku seseorang yang mulanya meyakini aqidah Asy’ariah namun meninggalkannya setelah HANYA menempuh kuliah di jurusan Fisika Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya selama 4 semester. Mengapa tidak sekalian disebutkan di mana riwayat mengajinya? Apakah lembaga pendidikannya kredibel seperti ITS? Apakah gurunya memiliki pengetahuan dan sanad yang memadai, kredibel, dan reliabel? Apakah ia khatam atau tamat ketika mengaji kitab-kitab tauhid atau hanya separuh jalan seperti kuliahnya di Fisika ITS?

Seingat saya, dulu ketika saya kuliah di Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, mata kuliah Fisika Kuantum diajarkan di semester “akhir” -saya lupa persisnya di semester V atau semester VI- bukan di semester IV atau semester-semester sebelumnya. Sebab, untuk belajar fisika kuantum dibutuhkan konsep prasyarat berupa fisika modern.

Ketika saya coba telusuri sekilas kurikulum Fisika ITS di situsweb resminya, saya menemukan Module Handbook Physics Undergraduate Study Program Curriculum 2018-2023. Di modul tersebut, dirinci materi/mata kuliah apa saja yang akan ditempuh di Fisika ITS lengkap dengan rincian sub materi, konsep prasyarat, buku referensi, dan sebagainya. Pada mata kuliah Quantum Physics¸ jelas tertera konsep prasyaratnya adalah Modern Physics, sedangkan konsep prasyarat dari Modern Physics adalah Physics 1 (tentang Mekanika termasuk Mekanika Fluida), Physics 2 (tentang Listrik-Magnet), dan Physics 3 (tentang Termodinamika, Gelombang-Optik, dan Fisika Modern versi sekilas). Kurikulum ini memang berlaku mulai tahun 2018, sedangkan Mas Alfan pindah dari jurusan Fisika pada tahun 2010, tapi saya yakin “ketentuan” tentang konsep prasyarat dan di semester berapa sebuah mata kuliah diajarkan relatif tidak berubah dan relatif sama dengan tahun 2010.

Lantas kapan, seberapa lama, dan seberapa banyak Mas Alfan belajar Fisika Kuantum, sebuah materi fisika modern yang konsepnya relatif sulit, masih relatif baru dan terus berkembang. Mungkin di 4 semester itu ia mengontrak mata kuliah/SKS melebihi SKS yang wajar sehingga belum semester V, ia sudah bisa mengontrak Fisika Kuantum. Atau bisa jadi, dia belajar Fisika Kuantum saat mengontrak mata kuliah Fisika 3. Itupun hanya di salah satu bab dari 6 bab yaitu di bab Fisika Modern, dan fisika kuantum hanya sebagian atau subbab dari bab Fisika Modern. Sangat mungkin Mas Alfan tidak sempat mengkaji materi fisika yang merupakan “lanjutan” dari Fisika Kuantum, di antaranya Fisika Nuklir. Sekali lagi mohon maaf, menurut saya, Mas Alfan sangat gegabah dalam menentukan piihan untuk mengubah pemahaman aqidahnya hanya karena ilmu yang sangat secuil tentang fisika kuantum.

Lebih lanjut, beberapa pendapat Mas Alfan juga justru kian menunjukkan bahwa beliau kurang faham tentang fisika kuantum. Salah satunya adalah tentang pernyataan “Ada partikel yang disebut dengan Foton dan Gluon, yang mana dua partikel ini tidak berjisim,” mengutip pendapat Rodlin Billah, asisten Riset Karlsruher Institut fuer Technologie, Jerman.

“penulis telah mencampuradukkan terma/definisi partikel dalam bidang fisika kuantum dengan terma/definisi jisim dalam bidang akidah Islam. Ini terbukti dalam sebuah komentar penulis,” jisim itu partikel.“ Padahal, terma partikel dalam bidang fisika biasanya merujuk pada obyek kecil yang terlokalisasi, yang dapat dideskripsikan baik karakter fisis maupun kimiawinya. Contoh karakter tersebut, antara lain, adalah volume, massa, atau juga kepadatan (massa per volume)”

Lebih lanjut, jika merujuk pada Model Standar Fisika Partikel (MSFP), ada dua golongan partikel dasar, yaitu fermion dan boson. Fermion terdiri dari 6 jenis quark dan 6 jenis lepton. Sementara Boson terdiri dari partikel elementer yang memiliki sejumlah gaya, seperti gaya elektromagnetik (foton/cahaya), gaya nuklir kuat (gluon), dan gaya nuklir lemah (boson W dan Z). Simpelnya, Foton dan Gluon (jenis dari Boson) yang disebutkan Mas Alfan adalah partikel pembentuk gaya/ikatan sehingga ketika ada beberapa jenis Fermion bersatu dan “diikat” oleh boson maka akan terbentuk partikel sub atom seperti proton, elektron, dan neutron.

Pernyataan Mas Alfan yang aneh lainnya ketika menanggapi komentar pembaca “…ketika gluon dan foton itu bergerak/berinteraksi sejak diciptakan maka punya jisim karena bermassa. Tapi pada hakikatnya ia tak bermassa dan tak berjisim.”

Mundur dulu ke Tahun 2011, setelah Mas Alfan pindah dari jurusan Fisika, CERN (Pusat Nuklir Eropa) berhasil membuktikan secara eksperimen keberadaan Partikel Boson Higgs, yang hasilnya dipublikasikan tahun 2012. Penemuan ini menguatkan Mekanisme Higgs yang dicetuskan oleh Peter Higgs, yang dianugerahi Nobel Fisika tahun 2013. Partikel Higgs dipercaya berperan penting memberi massa partikel-partikel lain semiliar detik pertama seusai dentuman besar/big bang. Berdasarkan teori yang dicetuskan Higgs, terdapat medan Higgs yang berinteraksi dengan partikel-partikel kecil, dan terus beraktivitas hingga membentuk atom atau bagian terkecil dari suatu materi. Merujuk Rodlin Billah.

“Singkatnya, medan Higgs adalah medan yang “memberikan“ massa pada setiap partikel di alam semesta ini. Interaksi berbagai partikel di dalam medan ini memiliki kekuatan yang berbeda-beda; karenanya sebagian partikel memiliki massa lebih berat ketimbang partikel lainnya dan sebaliknya. Pemahaman terbalik dari pengertian tersebut ialah semua partikel (biasanya partikel elementer) yang tak memiliki massa maka mereka tidak berinteraksi dengan medan Higgs. Sains hari ini baru menemukan dua jenis partikel macam itu: foton dan gluon. Dengan demikian, foton dan gluon jelas-jelas tidak memiliki massa (massless).”

Sudah sepatutnya kita lebih bijak dan hati-hati dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat. Teori atom sendiri semula hanya ada pada ranah filsafat lalu Dalton mencoba meng”ilmiah”kan atom yang kemudian terus dikoreksi oleh Thompson, Rutherford, dan Bohr hingga kemudian ditemukan Proton, Elektron, Neutron, ramalan partikel sub atom oleh Einstein, penemuan Quark dan terakhir partikel Boson Higgs.

Kita harus sigap dalam mengikuti setiap perkembangan ilmu namun juga harus berhati-hati agar tidak salah paham. Kembali saya mengutip Rodlin Billah, “Pada akhirnya, seseorang yang berkehendak membicarakan (entah menyelaraskan atau mempertentangkan) keduanya (sains dan akidah/agama) mesti menyadari betapa beresiko jalan yang hendak ditempuh”.

Saya jadi ingat ucapan salah satu dosen saya sewaktu saya menempuh kuliah magister Pendidikan Fisika di UPI Bandung, Dr. Aloysius Rusli namanya. Waktu itu, salah satu teman saya bertanya “Bolehkah bertanya tentang Tuhan?”. Pertanyaan itu muncul setelah Opa Rusli (panggilan sok akrab kami karena wajahnya mirip artis drakor) menjelaskan panjang lebar pada mata kuliah Filsafat Ilmu yang diantaranya membahas tentang jagad raya dan manusia yang akan terus mencari tahu jatidirinya dan apapun yang ada di sekitarnya.

Apa jawaban beliau? “Bertanyalah tentang Tuhan agar kamu lebih dekat denganNya, tapi berendah hatilah bahwa akal kita tidak akan mampu menjangkaunya”. Sebuah jawaban yang justru menguatkan saya pada aqidah Asy’ariah, akal dijunjung tinggi namun tetap ada batasannya.

 

Penulis adalah Guru Fisika MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren