Aktifitas-Alumni Kabar

Santri Buntet Ngaji Korupsi dari Berbagai Perspektif

KH Marzuki Wahid, Tsamara Amany Alatas, Muhammad Abdullah Syukri, Ahmad Fabi Kriyan Ardani (kanan ke kiri, Buntet Pesantren, Minggu, 28/1/2018)


Korupsi bukan sekadar tindakan yang merugikan negara. Lebih dari itu, korupsi dengan perilakunya yang disebut koruptif sejatinya berawal dari hal remeh, seperti mencontek. Hal itu yang diungkapkan oleh Tsamara Amany Alatas, aktivis antikorupsi.

“Melawan korupsi itu harus dimulai dari diri sendiri,” katanya kepada ratusan santri Buntet yang hadir memenuhi aula MA NU Putra Buntet Pesantren, Minggu (28/1/2018), saat Seminar Nasional dengan tema “Peran Santri Memberantas Korupsi” yang digelar oleh Forum Silaturahim Buntet Pesantren Cirebon (Forsila BPC) Jakarta Raya.

Tsamara juga menekankan, bahwa melawan korupsi bisa dilakukan melalui media sosial. “Jangan Cuma PBNU yang mengeluarkan buku tentang korupsi, tetapi kita juga bisa dengan ngevlog bareng, santri Buntet melawan korupsi,” katanya. “Inilah peran santri yang dibutuhkan,” lanjutnya.

Selain Tsamara, narasumber yang hadir pada seminar tersebut adalah Muhammad Abdullah Syukri. Ia menyampaikan korupsi dari sudut pandang perpolitikan dunia. Alumni Universitas Duisberg Essen Jerman menyatakan bahwa hampir tidak ada bedanya antara Indonesia dan negara lainnya. Lembaga negara seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Indonesia ada juga di negara-negara lain. Nemun, menurutnya, ada satu hal yang membedakan Indonesia dengan negara lainnya.

“Yang beda adalah mental kita,” kata pria yang akrab disapa Mas Dede tersebut.

Dalam seminar yang dipandu oleh Ketua Umum Forsila BPC Jakarta Raya 2014-2015 Ahmad Fabi Kriyan Ardani itu, hadir Sekretaris Umum Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PP Lakpesdam) KH Marzuki Wahid. Ia lebih menekankan pembicaraannya dengan menggunakan kacamata agama.

Dalam literatur klasik, disebutkan bahwa korupsi sudah muncul sejak zaman Nabi Muhammad saw. Kiai Marzuki menjelaskan bahwa sahabat yang korupsi dua dinar itu tidak perlu disholati oleh orang-orang baik. Kanjeng Nabi Muhammad saw. juga pada saat itu enggan menyolati orang tersebut.

“Itu sebagai hukuman moral dan spiritual,” katanya.

Dalam sambutannya, Sekretaris Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Aris Ni’matullah mengutip pernyataan Prof. Salim Said. Ia mengatakan bahwa mandegnya kemajuan Indonesia karena tidak ada yang ditakuti.

“Indonesia gak maju-maju karena gak ada yang ditakuti,” katanya. Sehingga, Allah saja tidak mereka takuti. Padahal mereka telah disumpah di bawah kitab suci Alquran.

Sementara itu, Sekjen PBNU Helmi Faishal Zaini menekankan pentingnya berdaya dalam ekonomi. Alumni Buntet Pesantren itu menyampaikan bahwa ada Rp9.000 triliyun perputaran uang di Indonesia dengan 85 persennya hanya dikuasai oleh 35 orang. Ia juga mengatakan bahwa kekayaan empat orang kaya di Indonesia setara dengan seratus juta orang miskin.

Hal lain yang Helmi sampaikan adalah pentingnya dakwah dengan media sosial. Termasuk di dalamnya mengingatkan orang lain untuk meninggalkan budaya koruptif.

Di akhir seminar, para santri mendeklarasikan diri siap memberantas korupsi. “Santri Buntet Pesantren Cirebon, siap melawan korupsi!” teriak seluruh hadirin.

Seminar tersebut merupakan acara puncak dari rangkaian kegiatan Forsilanival. Sejak awal Januari, Forsila BPC Jakarta Raya telah menggelar berbagai macam lomba dan sosialisasi kampus yang berada di wilayah Jakarta kepada siswa kelas XII. Di akhir seminar, panitia juga menggelar pengumuman juara lomba.


Syakirnf