Uncategorized

Niat Puasa Ramadan


Sumber : Avepress

Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib ain yang harus dilakukan oleh setiap mukallaf, orang yang terkena kewajiban. Kewajiban puasa itu tertuang dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 183.
Salah satu hal yang wajib dilakukan dalam berpuasa adalah niat. Berbeda dengan ibadah lainnya yang dilaksanakan berbarengan dengan pekerjaannya, niat puasa dilakukan sebelum melakukan puasa.
Umumnya, niat puasa dilakukan usai melaksanakan salat sunnah tarawih. Hal ini dimaksudkan agar tidak terhindar dari kelupaan yang mungkin terjadi saat sahur atau bahkan terlambat bangun setelah waktu imsak tiba.
Hal tersebut telah disebutkan oleh Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdurrahman Al-Dimasyqi dalam kitabnya Rahmah al-Ummah fi Ikhtilaf al-Aimmah, bahwa Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Imam Hambali bersepakat mengenai waktu niat puasa, yakni di bulan Ramadan pada waktu antara terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar kedua.
Berbeda dengan ketiganya, jika tidak niat pada malam hari, Imam Hanafi membolehkan niat hingga waktu zawal, dzuhur tiba. Ketiga ulama sebelumnya membolehkan niat sampai sebelum tiba waktu zawal hanya pada puasa sunnah.
Niat puasa sunnah dilafalkan. Hal ini tertuang dalam kitab Fath al-Muin dan hasyiyahnya Ianah al-Talibin.
(وفرضه) اي الصوم (نية) بالقلب ولا يشترط التلفظ بها بل يندب
Fardu puasa adalah niat dengan hati. Niat tidak wajib dilafalkan, tetapi sunnah.
Niat puasa harus dilakukan sehari sekali. Hal ini disebutkan oleh Imam Taqiyuddin Al-Dimasyqi dalam kitabnya Kifayah al-Akhyar, niat wajib dilakukan setiap malam karena setiap satu hari dianggap sebagai satu kali ibadah. Senada dengan Imam Taqiyuddin, Syaikh Abi Ishaq Ibrahim Al-Syairazi dalam kitabnya Al-Muhadzzab fi Fiqh Al-Imam Al-Syafii menyebutkan bahwa setiap hari itu merupakan satu ibadah tersendiri, dimulai sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Maka menurutnya, tidak cukup satu bulan puasa itu hanya dilakukan dengan satu niatan.
Imam Zakariyya Al-Anshari menulis niat puasa yang sempurna dalam kitab Fath al-Wahhab.
(وكمالها) اي النية في رمضان (ان ينوي صوم رمضان عن اداء فرض شهر رمضان هذه السنة لله تعالى) باضافة رمضان وذلك لتتمييزعن اضدادها
Niat puasa Ramadan harus menyebutkan niat ada’, fardu, dan Ramadan yang diidafahkan pada lafal hadzihi al-sanah, serta lillahi ta’ala. Kata Ramadan(i) harus dibaca kasrah sebab disandarkan pada lafal setelahnya. Penyandaran ini untuk membedakan dengan tahun-tahun lainnya, untuk menunjukkan bahwa puasa wajib yang dilakukan adalah untuk Ramadan tahun ini.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ للهِ تَعَالى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardli syahri ramadlani hadzihis sanati lillahi ta’ala
Saya niat berpuasa esok hari guna melaksanakan fardlu bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.
(Syakirnf)