feature Sejarah

Keakraban Buntet Pesantren dengan Tionghoa (2)

Barongsai meramaikan Haul Buntet

Selain memiliki anak kandung, Kiai Abbas juga memiliki seorang anak angkat. Dia bernama Usman. Masyarakat Buntet akrab memanggilnya Man Us. Man Us sejak kecil dididik oleh Kiai Abbas layaknya anak sendiri. Seperti anaknya pula, ia dikirimkan ke pesantren di Jawa Timur untuk lebih mendalami berbagai ilmu agama. Setamatnya dari pesantren, ia mengabdi sebagai pengajar di sekolah dasar.

Usman dikenal sangat alim. Keilmuannya tak perlu diragukan lagi. Ini terbukti ketika ia selalu berhasil menjawab soal-soal yang diajukan Kiai Akyas, adik Kiai Abbas. Kiai Akyas sering mengetes keilmuan guru-guru di madrasah dengan mengajukan berbagai pertanyaan seputar keagamaan. Kiai yang hafal Alquran dan puluhan ribu hadis beserta sanadnya itu selalu dipaksa mengakui kepintaran Usman.

“Siapa Usman?”

Dia adalah seorang putra Tionghoa peranakan. Kiai Abbas mengangkatnya sebagai anak sedari kecil mula. Menurut KH Ahmad Syauqi Chowas, salah satu cicit Kiai Abbas, Usman dikhitan bersama ayahandanya, yakni Kiai Chowas. Selain itu juga dengan Kiai Hisyam Manshur dan Kiai Amak Soleh. Kiai Abbas pula yang mengadakan walimatul khitan. Tidak ada yang dikecualikan di sana.

Kiai Usman tinggal di daerah Cangkol, Kota Cirebon. Dia sangat gigih dalam berdakwah. Namanya tercatat sebagai salah satu pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Cirebon. Selain itu, hingga wafatnya, beliau mendedikasikan dirinya menjadi Imam Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Saban Subuhan, beliau juga senantiasa mengisi pengajian di masjid yang terletak di Keraton Kasepuhan tersebut. Ia juga mendonasikan rumahnya untuk dijadikan Taman Kanak-kanak.

Kedekatannya dengan masyarakat Tionghoa itu lantas mengalir natural dalam diri Nyai Sukaenah, putri Kiai Abbas. Ia mengangkat Shiem Oek sebagai sopir pribadinya selama 10 tahun sejak ia pertama kali memiliki mobil angkutan pada tahun 1977.

Jalinan persaudaraan Buntet dengan Tionghoa kian erat tatkala KH Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia keempat. Ditetapkannya Hari Imlek sebagai hari libur nasional semakin menambah kepercayaan warga peranakan itu terhadap kalangan pesantren.

Setiap Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren selalu hadir Barongsai untuk menghibur adik-adik peserta khitanan masal. Tradisi budaya Tionghoa ini dinikmati oleh masyarakat pribumi. Masyarakat dari berbagai penjuru desa datang berbondong-bondong guna menyaksikan agenda tahunan itu. Mereka rela berpanas-panasan, bercucuran keringat demi pentas Barongsai yang hanya digelar sekali setahun di wilayah kecamatan Astanajapura.

Kiai Abbas dan keluarganya telah memberikan teladan dalam berkehidupan sosial. Masyarakat Buntet tentu saja mengetahui hal tersebut. Sikap demikian perlu terus dipupuk dan disiram dalam jiwa dan laku agar terus tumbuh dan tidak layu.

Selesai.

Syakirnf