Sejarah

‘Cina’ yang Mahir Nahwu Shorof

Oleh: KH Ahmad Syauqi Chowas*

Etnis Tionghoa bagi keluarga besar Buntet Pesantren bukan sekedar saudara dalam satu kewarganegaraan, akan tetapi sudah menjadi bagian keluarga yang tidak dapat dipisahkan. Salah satunya adalah Alm. Kiai Utsman yang diangkat anak oleh Jaddina Mbah KH. Abbas bin Abdul Jamil sebelum usia baligh dan menjadi seorang muallaf.

Sejak kecil, Utsman dididik dan diasuh oleh Kiai Abbas berbagai ilmu agama hingga dewasa dan menjadi seorang yang ahli dalam bidang ilmu nahwu & shorof (Gramatika Bahasa Arab). Kemampuannya dalam dua bidang ilmu alat sudah teruji saat beliau menjadi seorang tenaga pengajar di Buntet Pesantren. Pada era 1970-an Alm KH. Akyas Bin Abdul Jamil, adik Kiai Abbas datang ke madrasah dan memberikan soal-soal kepada guru yang sedang mengajar di kelas di hadapan murid-muridnya.
Di saat guru yang lain bersembunyi dan menyelamatkan diri dari pertanyaan Kiai Akyas karena jika salah akan menjadi sasaran kemarahannya, maka tidak dengan Kiai Utsman. Beliau tetap di dalam kelas dan siap menjawab berbagai pertanyaan yang diberikan kepadanya. Kiai Utsman diperintah oleh Kiai Akyas menulis sebuah syiir yang cukup rumit, yang tidak semua orang dapat menulis atau membacanya dengan benar tanpa kemampuan dalam ilmu nahwu dan shorof. Tapi, beliau bisa melewati ujian berat itu dengan mulus. Begini bunyi syiir tersebut dalam bahar thowil  :
لقد طاف عبد اللهِ بي البيتَ سبعة # وحجَ منى الناسُ الكرامُ الأفاضلُ
Selesai kiai Ustman menulis syiir tersebut Kiai Akyas memuji kemampuannya, “Hebat sira kuh, Cina,” kata Kiai Akyas.
Menurut walidi, sejak dulu Kiai Abbas sudah biasa menyelenggarakan khitanan massal, dan Kiai Utsman yang nama tionghoanya adalah Tan Ke Sang dikhitan oleh Kiai Abbas bersama cucu-cucu dan keponakan beliau, di antaranya adalah walidi KH. Chowas Nuruddin, KH. Hisyam Manshur, KH Ahmad Sholeh Bakri.
Kehangatan hubungan keluarga antara Tan Ke Sang dan keluarga besar KH. Abbas terekam dalam foto di atas ini. Dari kiri ke kanan: K.Utsman, KH.Fahim Chawi, Ny. Aminah, Ny. Sukaenah, Ny. Rohmah, Ny. I’anah (Istri Kyai Abbas).
Demikian sekelumit cerita hubungan hangat antara Tionghoa dan keluarga Buntet Pesantren yang sudah terjalin sejak lama. Dan hingga kini hubungan itu masih tetap terjaga dan akan terus dilestarikan.
Untuk para sesepuh, lahum Alfatehah.
Selamat tahun baru Cina
GONG XI FAT CHAI
*Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren Cirebon